ZONA SEKS : Pemenuhan Syahwat dan Industri Kapitalis

Perkataan seorang teman pernah menggelitik hati saya. Ketika itu dia menanyakan alamat rumah saya, dan setelah mengetahui bahwa tempat tinggal saya di daerah Gajah Mada, Kota. Dia berkata, “ Wah, mantap tuh. Ga pernah ada matinya tuh tempat. Buat ajep-ajep lumayan lah daripada ke klub mewah, mahal banget.” Perkataan ini membuat saya mengelus dada. Apakah memang benar daerah tempat tinggal saya seperti itu?.

Kawasan yang bernama Kota, akhir-akhir ini dikenal sebagai dengan objek wisata Kota Tua. Terletak di antara Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Kawasan yang tak pernah tidur karena letaknya di pusat kota dan dekat dengan beberapa pusat pemerintahan yaitu Istana Negara, Balai Kota, Sekretariat Negara, dll menjadikan kawasan ini menjadi pusat perputaran uang di Jakarta yang cukup besar. Jika di siang hari, kawasan ini tampak biasa saja dengan kegiatan perekonomian, perkantoran, dll. Tapi pada malam hari, kawasan ini nampak begitu mencolok dengan kegiatan seks. Hal ini menjadi menarik, karena bukan saja menjadi objek wisata sejarah tapi juga objek wisata seks.

Sepertinya wajar jika saya menamakan kawasan ini dengan “Zona Seks”. Zona ini memiliki banyak kemudahan akses terhadap semua yang berkaitan dengan seks. Jika dilihat dari segi pemasaran, Glodok adalah salah satu tempat dalam kawasan ini yang terkenal dengan pemasaran VCD bajakan terbesar se-Asia Tenggara. Dan bukan hal yang sulit untuk mencari VCD Porno buatan dalam negeri maupun luar negeri. Untuk segi bersenang-senang, Malioboro, Stadium, 1001, dan Millenium menjadi diskotik favorit bagi “turis” pencari kesenangan. Untuk segi seks sesaat, ada wanita-wanita yang dapat dipilih dengan kedok sebagai pemijat atau petugas spa dan sauna. Lalu untuk segi pengaman seks, ada berbagai macam kondom dari merk Durex sampai Crocodile yang rentang harganya Rp.25.000,- – Rp.10.000,- dan dijual bebas dipinggir jalan dengan menggunakan gerobak-gerobak kayu.

Suatu zona pasti mempunyai awal hingga terbentuk begitupun dengan Zona Seks ini. Sejarah pelacuran di Indonesia berawal pada jaman penjajahan Belanda. Industri seks berkembang sangat pesat. Ini terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Eropa. Umumnya aktivitas ini berkembang di daerah-daerah sekitar pelabuhan. Daerah pelabuhan yang dimaksud adalah Tanjung Priuk. Kawasan Tanjung Priuk sangat dekat dengan kawasan Kota karena bersebelahan.

Dalam sejarah pelacuran tercatat pada tahun 1852, pemerintah mengeluarkan peraturan yang menyetujui komersialisasi industri seks tetapi dengan serangkaian aturan untuk menghindari tindakan kejahatan yang timbul akibat aktivitas prostitusi ini. Kerangka hukum tersebut masih berlaku hingga sekarang. Meskipun istilah-istilah yang digunakan berbeda, tetapi hal itu telah memberikan kontribusi bagi penelaahan industri seks yang berkaitan dengan karakteristik dan dialek yang digunakan saat ini. Apa yang dikenal dengan wanita tuna susila (WTS) sekarang ini, pada waktu itu disebut sebagai “wanita publik” menurut peraturan yang dikeluarkan tahun 1852. Dalam peraturan tersebut, wanita publik diawasi secara langsung dan secara ketat oleh polisi. Semua wanita publik yang terdaftar diwajibkan memiliki kartu kesehatan dan secara rutin (setiap minggu) menjalani pemeriksaan kesehatan

Zona seks ini lahir dari proses sosial yang terjadi di masyarakat. Ketika sebuah institusi sudah terbentuk, masyarakat meorientasikan tindakan mereka sesuai dengan kegiatan yang telah “disetujui” dalam sebuah masyarakat. Pola yang terjadi bisa saja tidak berlaku lagi maupun sebaliknya. Dalam kontruksi sosial yang terjadi di kawasan ini, institusi tentang seks pun sudah terbentuk jauh sebelumnya. Dan tindakan-tindakan individual atau kelompok pun akhirnya terorientasikan ke hal seperti ini

Bisa dibayangkan bagaimana tindakan sekelompok masyarakat dalam kawasan ini. Industri seks yang menjanjikan uang yang sangat tidak sedikit ini menjadikan orang-orang berebut untuk mengambil posisi. Tak dapat dipungkiri bahwa adanya kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi seluruhnya oleh lahan-lahan yang disediakan oleh pemerintah. Bisnis dunia malam pun seakan menjadi halal bagi kalangan tertentu.

Zona Seks hadir tanpa ada pertentangan dari pemerintah. Tidak adanya tindakan tegas dari pemerintah yang mampu membuat zona seks ini perlahan hilang. Menjadi pertanyaan, “Bagaimana mungkin masyarakat Indonesia tidak mau dikatakan sebagai bangsa yang menyukai pornografi tapi pusat pornografi pun tak mampu diberantas?”. Ini seakan menjadi bumerang bagi bangsa Indonesia. Serta yang menjadi pertanyaan kedua adalah “ Benarkah Zona Seks sekedar menjadi lahan ekonomi atau ada sebuah grand desaign untuk menghancurkan karakter bangsa Indonesia?”

Pernah terbayangkan jika suatu saat nanti, kawasan ini akan menjadi seperti Las Vegas. Kawasan yang berkembang pesat dan embedded pada karakter masyarakat daerah itu. Sehingga jika nanti ada pergolakan dari segolongan masyarakat yang tidak menghendaki maka akan sulit untuk menghilangkan daerah ini. Pastinya akan ada benturan akan beberapa kepentingan. Sebelum hal ini terjadi, pemerintah harus mengambil tindakan strategis dalam masalah ini

(Ubek-Ubek Folder Jadul, 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s