[Tulisan Mas Luthfi Punk Muslim] JARANG DILIHAT

Tulisan ini sudah aku baca, sebelum mas luthfi mempublishnya di FB nya. Dan sudah meminta ijin darinya untuk mempublish di MP.
————————————————————————————————————————————–

ANAK JALANAN ATAU ANAK MANUSIA???

Mereka menyebutnya anak jalanan, ya.. demikian juga mereka menyebut saya. Walaupun saya adalah anak sepasang manusia tentunya, saya bingung dengan sebutan itu. Sejak kapan jalanan bisa melahirkan orang-orang seperti saya? Jalanan itu ibu atau bapak saya? Lantas unsur jalanan apa yang menjadi ibu dan bapak saya itu? Apakah aspal itu bapak saya dan lampu merah itu adalah ibu saya? Atau zebra cross dan rambu-rambu itu orang tua saya? Apa mungkin terminal dan bis kota itu adalah kedua orang tua saya? Lha terus mbah saya siapa? Pakde saya? Masalahnya saya ini gak setuju kalo di bilang anak jalanan, lha wong saya ini sudah menjadi “mbah jalanan”, Hahahaha.. gak penting banget bahas ini, intro aja bro.

Saya disini cuma ingin kasih kabar dari belantara kota yang semakin sesak itu, mungkin sesaknya juga gara-gara orang yang kayak saya ini, memang iya! Kalau kata pejabat pemda, “sentralisasi gembel” jadi harus di zero kan katanya wkwkwkw..

Selama ini stigma yang terbangun dari anak jalanan adalah keras, liar, nakal, brutal dan “seabreg” kata cadas lainnya. Secara kasat mata, iya, saya juga akan mengatakan hal seperti itu, karena saya memang merasakan hal seperti itu, tapi saya juga ndak setuju dan mengatakan “ya gak semuanya seperti itu lah”. Banyak dari mereka yang jauh dari paradigma cadas itu, bukan karena mentang-mentang saya adalah salah satu dari mereka yang baik-baik itu, bukan mas, bukan mbak, waktu saya nulis ini saja saya masih berstatus BERANDALAN bin KURANG SOPAN yang menganut paham BRUTALISME dengan titel “SH” kok. Bukan sarjana hukum lho pastinya, kalau kata teman saya SH itu akronim dari “susah hidup” huhuhu. Jadi saya ini berada dalam kelompok yang cadas itu.

Disini saya akan ajak anda untuk tahu sedikit kejadian-kejadian di jalanan yang menurut saya dahsyat banget, mungkin bisa jadi semacam “sentilan norma”. Norma yang biasa kita gunakan untuk menilai sesuatu.
…………………………………..
Anda pasti tahu apa “manusia gerobak” itu? Yups, benar sekali gambaran anda tentangnya! Maka tak perlu saya jelaskan. Saya melihat manusia gerobak di suatu malam menancapkan jidatnya di hamparan koran, berulang kali ia tancapkan, lalu berdiri lagi sambil mendekapkan tangannya di dada, lalu ia tancapkan lagi jidatnya. Ya! Kita akan segera tahu bahwa manusia gerobak itu sedang melakukan ritual sholat. Apakah kita hanya akan melihat dia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim? Lebih dari itu! Lihatlah! Ternyata dia sedang bertemu dengan kekasih sejatinya, dia bukan manusia gerobak, tapi dialah manusia sejati, dialah si kaya, dialah si sholeh, dialah hamba Allah, dialah si baik, dialah si baik, dialah si baik. Mari kawan, munculkan pernyataan dan pertanyaan terkait pemandangan tentang manusia gerobak tadi, lalu cerminkan ke diri kita, berapa pernyataan dan pertanyaan yang akan muncul? Dan bandingkan dengan cerita hidup mapan kita saat ini.

Dan kita lihat para pemulung itu. ternyata mereka itu adalah pahlawan dari kota-kota besar. Yang Tanpa kita sadari keberadaan mereka selama ini. Sadarkah kita bahwa merekalah yang mengecilkan kadar air dalam banjir kota? Sadarkah kita bahwa mereka telah meminimalisir pertumbuhan kuman dan bakteri yang merugikan? Tahukah kita ternyata mereka juga turut memutus jaringan mafia nyamuk-nyamuk yang menyebarkan penyakit demam berdarah? Karena setiap harinya ada ribuan kilogram sampah yang dibersihkian oleh mereka dari kali dan sampah yang ada disekitar lingkungan kita? Dan mereka melakukan itu tanpa pamrih dari kita, disaat yang sama, pemerintah tidak banyak berbuat apa-apa dengan biaya yang wah dari pungutan pajak kita.

“Kenek” atau “kernet”, anda juga pasti tahu akan jabatan ini kan? ya! Dia adalah co-pilot pesawat ngesot alias bis kota/metromini. Sewaktu saya melakoni peran sebagai artis dalam bis kota. Bertemulah saya dengan seorang kenek tua. Si kenek tua itu, dia selalu tersenyum dan selalu minta maaf ketika meminta ongkos penumpang. Dia melakukan itu tidak hanya ketika sewa miring alias penumpang penuh, tapi disaat penumpang sepi pun dia masih tersenyum, dan selalu minta maaf ketika meminta ongkos penumpang di dalam kesumpekan dan kebisingan si kaleng rombeng bersolar itu. Ia pun selalu memberi saran agar para penumpang untuk berhati-hati dengan barang bawaannya. Pak tua, saya sangat mengagumimu, walaupun saya ini orangnya pencemberut kelas kakap, dan juga susah untuk memaafkan, padahal saya tahu kalau saya ini juga salah, saya mengagumimu pak tua. Brader yang sempet baca artikel ini, berapa pernyataan dan pertanyaan yang akan muncul untuk kisah pak tua ini untuk kita sandingkan dengan sikap-sikap kita saat ini?

Lalu, kita lihat sesosok anak kecil umbelan yang sudah lihai melawan kerasnya kehidupan jalanan tanpa menyerah, berdikari, dan sudah mampu membantu orang tuanya, yang tetap bernyanyi lepas, tertawa riang walaupun masa kecilnya terenggut sudah, yang masih lanjutkan sekolah dan mengajinya walaupun empot-empotan untuk membayar aksesoris kebutuhan sekolahnya. Sobat, bagaimana perbandingan dengan masa-masa kecil kita? Sobat, adakah kita saat ini bercita-cita untuk menjadi kakak angkatnya? Atau mungkin orang tua angkat bagi mereka? Terbersitkah cita-cita itu dalam diri kita?

Bagaimana kalau cerita yang satu ini? Pengamen jalanan yang secara tidak langsung menjadi “polisi jalanan”, yang membuat keder para orator (tukang palak) dan copet di dalam bus kota/metromini. Dan, membuat orator berfikir sekali lagi untuk beraksi menguras dompet para penumpang saat para pengamen sedang bernyanyi, karena para penjahat itu akan menjalankan aksinya ketika bus kota/metromini itu tidak ada pengamennya. Sebab sebagian besar pengamen adalah musuh yang di takuti oleh para penjahat tadi, walaupun pengamen juga sadar kalau dia juga terkadang meresahkan dan membuat bete para penumpang pada umumnya.

Hahaha… mentang-mentang penulis adalah seorang pengamen, mungkin ada yang berfikir “ini mah tulisan sak karep’e pengamen aja” atau “wah ini mah pengamen yang terkena kuman subyektifitisme”. Hehehe.. ndak apa-apa, monggo-monggo saja, terlepas dari tulisan khusus tentang pengamen itu subyektif atau ndak, monggo silahken di ambil hikmah yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa nyata di atas..

Oke brader kabeh, sebenarnya masih banyak kisah-kisah dari kehidupan masyarakat jalanan yang tidak sebrutal kelihatannya. Semoga saya bisa mengabarkan di tulisan-tulisan selanjutnya nanti, dan bisa menjadi kisah yang menginspirasi buat kita untuk perubahan diri kita semuannya (Aamiin)

by: Luthfi Pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s