masih tentang botol bekas

langkah ku terburu-buru, meninggalkan kampus. Mendung bersiap menumpahkan uap air yang tertahan.

Lebih cepat dari ku, bocah dekil berjalan lebih cepat disamping kanan sambil membawa karung beras bekas.

dibelakangya, temannya mengikuti..

“Pluk” botol air mineral dibuang begitu saja oleh paras cantik diselubungi make up memerah jingga..

Sekejap, botol itu diambil oleh bocah dekil tadi.

“Bodoh ya, masa dibuang..!” sambil menengok ke arah temannya..

yang ditengok, cuma menanggukan kepala sambil mesem mesem melihat botol itu masuk dengan selamat di karung bekas yang dibawa temannya..

begitu besarnya makna dari sebuah botol bekas bagi mereka. Simbolitas yang tak berarti kepalsuan. Hanya memaknai simbol sebagai makna sesuap nasi. Simbol botol yang menuju realita di lingkaran hidup mereka.

lalu, kerasnya mereka harus berkata, “Hey, Ini Nasi!!! Bukan Sampah!”

dan kita hanya bisa bilang, “Itu sampah. Iyalah sampah, udah habis kok isinya. Ya dibuang aja. Berarti sampah donk..”

dan sekarang saya memahami sebuah pernyataan, memulung sampah hati.

-masih berdialektika dengannya di dermaga ufuk utara-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s