Kecil Vs Kecil

Sabtu pekan kemarin, kali pertama saya menjadi MC dalam sebuah acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim di mushola dekat rumah. Acara yang berlangsung selama 4 jam ini, Alhamdulillah berjalan lancar. Jamaah yang datang pun banyak bahkan hampir berdesak-desakan. Tapi yang membuat kagum adalah kebanyakan mereka yang hadir adalah para ibu termasuk Mama dan Tante Deti, tante saya. Saya dan beberapa murid-murid TPA adalah yang paling muda secara usia diantara mereka. Subhanallah. Di akhir acara, setiap yang hadir dibekali “besek” yang berisi makan siang. Ketika saya mau pulang diberikan dua besek. Kata ustadzah yang memberikan, “yang satu untuk suami”. (:

Sesampainya dirumah, saya langsung menaruh besek tersebut di meja dan langsung menuju kamar menghampiri suami yang sedang asyik di depan laptop. Mengobrol sebentar tentang acara yang saya pandu tadi. Tidak lama kemudian, Mama memanggil dari ruang depan. Mama langsung menceritakan hal yang membuat saya tertegun.

Mama duduk di sofa dengan raut muka yang tak biasa. ”Cin, tadi Mama kan dapet beseknya dua buah. Terus si bapak yang jual TTS lewat. Mama panggil. Terus Mama kasih besek tadi ke dia. Tapi nolak. Ya Allah, Mama sedih banget”. Saya masih diam, mendengar cerita Mama. Memang, bapak yang menjual TTS ini sering lewat didepan rumah. Beliau menjual Buku Teka Teki Silang (TTS) dan pulpen dengan harga seribu. Perawakannya tinggi dan kurus. Garis-garis mukanya pun keras, lelah berjalan kaki untuk berjualan.

Mama melanjutkan ceritanya sambil menatap kosong ke arah teras rumah, “Tau engga kenapa Bapak tadi menolak. Dia bilang, saya nggak mau bu. Bukannya apa-apa, saya bingung nanti kalau makan, buang air besar dimana. Saya ga punya rumah, bu.” Saya termangu. Diam. “Bapak tadi sambil megang perutnya dan nangis. Habis itu pergi,Ndy”.

Astagfirullahal’adzim…….. begitu kah rasanya, saat seorang dhuafa tak punya rumah. Buang air saja bingung mau dimana. Teringat anekdot “Pipis aja bayar!”. Ya, apalagi buang air besar. Di wc-wc umum, buang air kecil dikenakan Rp. 500-1.000 dan buang air besar Rp.1.000-2.000. Murah? Ya, bagi kita uang seribu atau dua ribu sangat kecil. Bahkan tidak cukup untuk membeli bakso kesukaan kita di sore hari. Tapi bagi mereka? Sehari pun belum tentu memegang uang seribu. Butuh kerja keras. Ingat, bapak tadi tidak pernah mengemis, ia hanya menjual buku TTS yang harganya seribu, teman. Seribu! Mungkin, kalau kita bertemu beliau suatu saat nanti, kita akan menolak membeli. “Ah, buat apa TTS. Ngabisin duit aja. Mending beli pulsa buat maen pesbok”. Tapi, maaf teman, seribu bagi beliau adalah surga dunia. Surga yang membuat dia bisa bertahan hidup bukan dari mengemis.

Di luar sana, masih banyak yang mencari nafkah tanpa mengenal kata “mengemis”. Ada para pekerja bangunan yang setiap hari mempertaruhkan nyawa hanya demi uang 20.000, ada para ayah yang mempertaruhkan keselamatannya dengan bekerja sebagai teknisi Billboard, ada para penjual koran yang memiliki resiko tertabrak kendaraan karena sering berjualan di lampu merah. Dan bagi mereka, uang yang didapat tidak seberapa. Tapi mereka bersyukur. Yang penting bisa untuk makan keluarga dirumah dan sedikit menabung untuk pulang kampung. Kita???

Baiti Jannati

22 Februari 2012

Dua minggu lewat dua hari bada awal baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s