Catatan Kecil : Perempuan yang Berjejalan (Alm.Yoyoh Yusroh) dan RUU KGG

Siang ini, tak sengaja melihat majalah Ummi tahun 2007 yang terletak rapi di meja kantor. Buka selembar demi selembar menikmati setiap artikel. Menarik juga. Tema majalahnya tentang produk-produk halal. Namun, sedikit lagi selesai membaca, di halaman 62, tersaji kolom Dunia Wanita yang membuat senyum terulas. “Mba len, ada artikel bunda yoyoh!” teriakku ke Mba Lenny, salah satu rekan kerja. Mungkin, setiap kita punya tempat tersendiri di hati bagi Almarhum Bunda Yoyoh. Walaupun aku sendiri tidak mengenal beliau. Antusias membacanya sampai akhir kalimat. Pemulian perempuan dan kesetaraan yang Bunda angkat di dalam tulisannya. Hati tergelitik, isu ini sedang “lucu-lucunya” bukan? RUU GENDER! Wacana yang sedang booming di Koran-koran nasional. Sebelumnya, saya tulis ulang tulisan beliau, karena setelah dicari di Internet, tidak ada. Tulisan ini tidak diedit sama sekali, sesuai dengan apa yang ditulis di majalah tersebut. Judul Asli : Perempuan yang Berjejalan.

Beberapa waktu yang lalu saya menjenguk Ayyasy (10 tahun),anak saya yang sekolah di pesantren tahfidz Al-Qur’an di Kudus. Saya memilih berangkat dan pulang menggunakan bis dan Alhamdulillah, banyak hikmah saya dapat dari perjalanan via kendaraan umum ni. Satu diantaranya, saya jadi tahu bahwa rata-rata para penumpang bus ini adala para pekerja kasar yang bekerja di Jakarta.

Sepulang dari Kudus, sengaja saya bayar bangku kosong di sebelah saya, karena saya ingin mengistirahatkan kaki saya yang cukup lelah. Namun, rasa tidak tega membuat saya mempersilahkan seorang Ibu yang naik pada pukul 3.30 pagi untuk duduk di bangku yang sudah saya bayar itu. Apalagi kemudian saya mengetahui tujuan dia melakukan perjalanannya itu. Ah, rupanya demi menyambung hidup dirinya dan keluarganyalah dia melakukan perjalanan di pagi buta seperti itu.

Semakin lama bus semakin dipadati penumpang. Yang berdiri semakin banyak, dan tak sedikit diantara mereka yang berdiri in adalah para penumpang perempuan.

Saya bersyukur bahwa Ibu di sebelah saya sudah dapat tempat duduk, sebab kalau tidak, belum tentu dia akan diberi tempat duduk oleh para “penumpang duduk” yang rata-rata laki-laki itu.

Saya segera saja teringat suasa transportasi di Jakarta. Para penumpang masa kini, rata-rata naik dan mencari kenyamanan untuk dirinya sendiri. Maka pemandangan sangat umum yang Nampak di bi kota kita adalah : berjejalannya ibu-ibu tua, wanita hamil, hingga wanita-wanita pekerja yang kelelahan setelah mencari nafkah,sambil mereka dengan “rela hati” harus melihat para lelaki muda dan sehat duduk di sekitar mereka dengan nyamannya.

Tiba-tiba saya rindu tulisan yang terpampang di bis-bis kota saat saya sekolah dulu. “Utamakan Wanita” begitu stiker itu berbunyi pada setiap bis yang ada. Sehingga, setiap kali naik bis kota, mayoritas perempuanlah yang menjadi para “penumpang duduk”. Jarang, jarang sekali, nampak laki-laki duduk bila masih ada perempuan yang berdiri.

Berbagai pikiran berkecamuk dalam benak saya. Sudah keraskah hati para laki-laki masa kini sehingga membiarkan para perempuan berdiri bergelantungan di kendaraan-kendaraan umum?

Apakah tidak terpikir oleh mereka, terbayangkan oleh mereka, bahwa perempuan itu bisa saja adalah ibu, kakak, adik, atau saudara perempuan mereka? Tidak terketukkah hati para laki-laki ini untuk bersikap kasih sayang, memuliakan perempuan,sehingga tega membiarkan kondisi itu terus terjadi?

Dari berbagai data yang saya miliki terungkap bahwa sebagian besar para perempuan yang keluar rumah adalah perempuan-perempuan pekerja yang bekerja dengan rela hati demi membantu peningkatan ekonomi keluarga, membantu suami-suami mereka yang di PHK, menambah pemasukan keluarga yang pas-pasan, membantu orangtua, dll.

Bukan hanya itu, mereka pun tak lantas berkuang tanggung jawab “pekerjaannya” di dalam rumah, baik apa-apa yang harus mereka kerjakan sebelum atau sesudah mereka berangkat bekerja. Karena itu, jelas, pastilah sangat melelahkan bagi para wanita ini kalau kemudian mereka masih harus pula dibiarkan bergelantungan di bus-bus itu di saat pergi dan pulang kerja.

Sebagian orang mungkin berpikir ini adalah wujud emansipasi, kesetaraan laki-laki dan perempuan. Tetapi, apakah tidak menjadi salah kaprah bila alasan emansipasi justru berimbas pada hilangnya sikap pemuliaan, penghormatan, kesantunan, dan kasih sayang terhadap perempuan?

Saya teringat pada sebuah Hadist Rasulullah SAW : “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik (berbuat, bersikap) terhadap keluarganya.”

Siapapun mestinya bisa memahami pemaknaan hadist ini bahwa sikap mereka terhadap keluarga akan jadi patokan bagi kualitas pribadi yang akan terbentuk. Seorang pemimpin yang baik misalnya, bisa dilihat dari bagaimana selama in dia sikap pada keluarganya, baik pada istri, anak dan ibunya.

Maka, saya terpikir, alangkah indahnya masyarakat yang kan terbentuk di Indonesia bila sejak sekarang mereka mau kembali memuliakan para perempuan.

Jadi ingat seorang teman di Multiply menulis note yang isinya,

“Saya menolak RUU Gender! Karena masih pengen kalau naik kereta atau bis, dapat tempat duduk dan ga berebutan!”

dan sentilan tadi pagi yang saya lontarkan kepada Rifa, rekan kantor juga, “Lucu kali ya Fa, nanti kalau nikah, ijab kabulnya, perempuan yang ngomong, dan laki-laki diam”.

dan sentilan-sentilan aneh lainnya.

Sekilas tentang KKG

Para aktivis KKG, mendesak keterwakilan perempuan dalam lembaga politik, yang menurut mereka masih didominasi oleh laki-laki. Bahkan, masih menuntut 30% keterwakilan perempuan di parlemen dalam RUU Pemilu. Kalian tahu siapa kan? Hehe. Keterwakilan perempuan di DPR sekarang 18%. Paling tinggi dibandingkan dengan AS yang angkanya 16,8%. Mungkin aneh bagi mereka, jika ada wanita yang berkualitas baik, lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, dengan menjalankan bisnis rumahan yang dengan begitu mudah mendidik anak-anaknya.

Haruskah tetap memaksakan untuk mengisi kuota perempuan yang ada, jika yang faktanya adalah banyak perempuan enggan duduk di parlemen, bukan soal kualitas melainkan kesiapan mental serta kesiapan membagi waktu untuk amanah-amanah di wilayah domestik. Kalau tidak mau, ya jangan dipaksa. Tapi jika mau, ya monggo didukung. Tapi mereka berteriak,”Pos itu harus diisi oleh perempuan. Tidak boleh laki-laki. Karena laki-laki sudah ada kuotanya”. Soal kualitasnya tidak terlalu penting. Yang penting perempuan.

Begitu? Bagi saya, jika ada perempuan yang kualitasnya baik untuk merubah Indonesia, silahkan maju ke ranah publik. Yang tidak mau, silahkan berikan yang terbaik di kapasitasnya masing-masing. Tapi yang paling terpenting adalah, dia menyadari bahwa perempuan mempunyai peranan yang telah Allah berikan.

Seperti dalam tulisan Bunda Yoyoh di atas, “Sebagian orang mungkin berpikir ini adalah wujud emansipasi, kesetaraan laki-laki dan perempuan. Tetapi, apakah tidak menjadi salah kaprah bila alasan emansipasi justru berimbas pada hilangnya sikap pemuliaan, penghormatan, kesantunan, dan kasih sayang terhadap perempuan?”

RUU KGG?? Perempuan Mulia? *rethinking saudara-saudara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s